Small-Group Swap: Tukar Pakaian Dalam Kelompok Kecil

Tukar menukar fesyen item merupakan hal yang sedang dinormalisasi oleh banyak orang belakangan ini. It’s easy to do and surprisingly please the desire to have a new look. Kegiatan ini juga mampu mengurangi sampah produk fesyen dan juga memungkinkan kita untuk memperpanjang umur dan manfaat baju yang sudah tidak disukai atau tidak dapat digunakan lagi.

Di Indonesia, Event clothing swap beberapa kali telah sukses dilaksanakan antara lain oleh  kampanye #tukarbaju dari Zero Waste Indonesia (ZWID), kemudian oleh Baliswap, Komunitas Consciousfashionista dan juga Fashion Revolution Indonesia.

Namun Demikian, clothing swap atau tukar pakaian sebenarnya bisa kita lakukan dalam kelompok yang lebih kecil, seperti kelompok pertemanan atau keluarga. Hal ini lebih disukai bagi mereka yang merasa lebih nyaman untuk bertukar dengan orang orang yang mereka kenal dengan baik.

Agnes Irawati, kontributor Jelujur, memiliki tips tips yang dapat dicoba dalam bertukar baju dalam grup.

- - -

Setiap orang tentunya memiliki kecenderungannya masing-masing. Teman-teman saya adalah tipe wanita remaja yang gemar shopping. Hampir setiap minggu membeli baju baru. Hal ini tentu saja menjadi sebuah masalah lingkungan jika dilakukan terus-menerus.

Beberapa kali, saya pernah menyarankan teman-teman saya untuk membeli saja di Thirft Shop/ sewa outfit. Namun, teman-teman saya enggan untuk melakukannya dengan alasan takut ada penyakit yang menempel di baju, atau cara mencuci yang kurang bersih. Untuk menyiasati hal ini, akhirnya saya mengajak teman-teman saya untuk mulai melakukan fashion swap.

1. Kita membuat anggaran, berapa yang mau kita keluarkan. Dengan mengacu kepada anggaran, kita bisa mematok kisaran harga outfit yang akan kita beli.
2. Kita kumpulkan uangnya menjadi satu, lalu kita belanja bersama.
3. Kita memilih outfit yang free size, dengan warna-warna yang netral, atau kita sukai bersama.
4. Hasilnya? Setiap kali kita butuh tampilan baru, kita tidak perlu membeli baju baru, tapi melakukan mix & match atau padu padan dari beberapa outfit yang kita beli bersama, dan berkomitmen untuk saling menukar dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Dan tentunya dengan cara itu, membantu mengurangi masalah limbah pakaian dan kenderungan shopping yang berlebihan.

---

Bagaimana? Tertarik untuk mencoba melakukan clothing swap dalam kelompok kecil? Mungkin selain kelompok pertemanan dekat, bisa juga dalam keluarga, saudara, atau teman satu kos. Dari banyaknya manfaat yang bisa didapat, Jelujur yakin clothes swap atau tukar pakaian akan tetap menjadi 'primadona' dalam mengurangi sampah pakaian dan tetap mendapatkan barang baru tanpa harus keluar uang lagi. (/mza)


Masa Depan Rental Dalam Ekonomi Sirkular

Bicara tentang fashion buyerarchy, poin yang paling luas dan terletak di piramida bagian bawah -termasuk di dalamnya adalah Rewear, Rental, Swap dan Thrift- berkutat pada pembahasan soal circular economy. Apakah yang dimaksud dengan circular economy itu?

Circular Economy atau ekonomi sirkular adalah sebuah model yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi dengan manfaat maksimal untuk masyarakat luas, dan mengedepankan pemahaman bahwa sumber daya energi dan bahan mentah bersifat terbatas. Ekonomi sirkular mendukung transisi pemanfaatan sumber energi terbarukan, pertumbuhan ekonomi, kapital sosial dan juga pelestarian lingkungan. Model ini dapat diterapkan mulai dari proses perancangan produk yang minim sampah dan polusi, memaksimalkan penggunaan material serta regenerasi sistem lingkungan (Ellen MacArthur Foundation, 2017).

Secara sangat sederhana, ilustrasi soal ekonomi sirkular dan perbedaannya dengan model bisnis lain adalah sebagai berikut:


Sumber gambar: @awakeninghumanbeing

Nah, setelah mendapat gambaran tentang ekonomi sirkular, tentunya teman-teman bertanya-tanya apakah mode bisnis ini sama menguntungkannya dengan ekonomi singular yang telah lama dilakukan oleh merek-merek dan retailer besar?

Sebuah inisiatif global yaitu Fashion for Good pada Bulan Mei lalu merilis sebuah laporan yang mereka kerjakan bersama Accenture Strategy berjudul "The Future of Fashion: Assessing The Viability of Circular Business Models" yang dapat diakses di laman resmi mereka di sini. Laporan ini mereka sampaikan pada acara Copenhagen Fashion Summit bulan Mei lalu.

Mengapa mengakses viability atau kesempatan hidup bagi pelaku ekonomi sirkular menjadi agenda mereka? Karena keadaannya saat ini yang marak terjadi adalah: bisnis fashion kebanyakan tidak memperhatikan berkelanjutan, dilihat dari konsumsi material, polusi yang dihasilkan, dan juga buangan yang membebani lingkungan.

Sebagai model bisnis yang belum populer, tentunya ekonomi sirkular memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing.

Strength & Opportunity
- Praktik desain baru yang sirkular
- Kesempatan bagi inovator start-up baru
- Pembangunan infrastruktur yang mendukung proses ekonomi sirkular (pengiriman barang, pengembalian dll)
- Preferensi konsumen yang berubah, yang lebih menyukai hal baru dan variasi, juga tidak terlalu ingin dibebani dengan kepemilikan. Nyatanya, 73% konsumen milenial lebih memilih merek yang memiliki tujuan yang jelas*

Weakness & Threat
- Belum semuanya memiliki keahlian dalam bidang teknologi
- Perlu menajemen inventarisasi yang lebih matang.

Kembali pada laporan dari Fashion for Good. Ada tiga jenis model bisnis dalam ekonomi sirkular:
1. Rental: Peminjaman item fashion dalam jangka waktu tertentu
2. Subscription-Rental: Penyewaan berlangganan dengan pembayaran bulanan agar dapat mengakses banyak pilihan item fashion.
3. Recommerce: Penjualan kembali item fashion bekas yang dilakukan oleh penjual/ retailer.

Ketiga model bisnis ini memungkinkan bagi para brand dan retailer untuk memutus rantai pemakaian bahan baku dan sumber daya yang tidak terbarukan, serta mengeliminasi limbah atau buangan. Sebagai inisiatif global pertama yang mengakses keberhasilan bisnis sirkular untuk bertahan dengan hasil yang memuaskan, Fashion for Good yakin bahwa di masa depan, ketiga model bisnis ini secara finansial dapat diandalkan sehingga mendatangkan kesempatan untuk menambah margin keuntungan.

Mereka menerapkan dan mencoba menganalisa ketiga model bisnis ini pada keempat jenis pemain dalam pasar industri fashion, yaitu:
1. Value market: ditandai dengan harga yang murah, penjualan yang tinggi, dan pilihan produk yag sangat beragam.
2. Mid-market: serupa dengan value market, hanya memiliki harga yang sedikit lebih tinggi.
3. Premium market: mewah namun tetap affordable, produknya memiliki standar yang dijaga betul.
4. Luxury market: barang-barang desainer dengan kualitas terbaik dan harga yang cukup tinggi.

Hasil akhirnya ternyata, praktik recommerce menjadi yang paling menjanjikan pada tataran mid-market, premium, hingga luxury. Subscription rental menyusul dengan menunjukkan margin positif pada ketiga pasar. Lalu praktik rental yang populer pada kelas luxury dan premium.

Hal ini menunjukkan bahwa di masa depan, praktik rental pakaian (baik rental biasa maupun subscription-rental) dan recommerce memiliki tempat baik dan menghasilkan keuntungan yang menjanjikan dalam industri fashion, baik di pasar kelas bawah, menengah maupun atas. Ketiganya juga memberikan pengaruh baik pada konsumen, penjual, dan secara sosial-lingkungan. Hal ini juga dapat menjadi cambuk bagi  produsen value market untuk berinovasi dengan biaya yang terbatas, meningkatkan durabilitas dan kualitas pakaian serta mengubah paradigma bahwa  low cost itu sama dengan disposable.

Bagaimana? Teman-teman tertarik untuk menjalankan bisnis dengan model singular untuk membantu lingkungan kita? Adakah cerita menarik saat mencoba rental atau menyewa pakaian? Atau ingin berbagi tempat sewa pakaian favorit kalian? Ceritakan di kolom komentar di Instagram Jelujur, karena bulan Agustus -sebagai #RentMonth- sudah hampir selesai sebentar lagi.

Let's connect the dots by sharing stories!

Catatan:
*Nielson, “Global Corporate Sustainability Report,” Nielson, 2015.

Aryani Widagdo : Zero Waste Fashion adalah PR Bersama


Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Seringkali kita menunda--bahkan membatalkan--untuk membantu beban bumi dengan dalih “ah, percuma juga saya melakukannya kalau semua orang masih melakukannya”, “ya udah sih, masih ngaruh kah kalo aku melakukan ini sekarang?”, dan sebagainya. Perasaan bahwa sampah di bumi sudah terlanjur banyak dan kita tidak akan mampu memberi kontribusi berarti yang dapat menolong kondisi planet ini memang sulit dielakkan, apalagi di era di mana siapapun dimanapun yang memiliki koneksi internet (dan dana yang cukup) bisa membeli apapun yang mereka mau. Tapi, apa benar sudah terlambat bagi kita untuk melakukan sesuatu demi kelangsungan hidup planet tempat tinggal kita?

Ibu Aryani Widagdo


Fashion Educationist Aryani Widagdo jelas tidak setuju dengan sudut pandang pesimis tersebut. Baginya,tidak ada kata terlambat untuk memulai, dan tidak ada kata pensiun untuk peduli. Selepas purna tugas dari Arva School of Fashion yang beliau dirikan dan asuh sejak 1989 silam, Aryani mengalihkan energinya (yang nampaknya tidak ada habisnya!) ke Aryani Widagdo Creativity Nest. Lembaga tersebut bergerak di bidang riset, pendidikan fesyen, serta keterampilan jahit-menjahit. Berdiri sejak tahun 2015, keberadaan lembaga ini menjadi angin segar bagi dunia fesyen khususnya di Surabaya, mengingat lembaga riset di bidang fesyen bisa dibilang masih sangat sedikit jumlahnya. Khususnya lembaga riset yang memiliki fokus utama di bidang zero waste fashion (fesyen nol limbah) seperti ini.

Fesyen yang Berkelanjutan, Kesadaran yang Berkelanjutan

Ketertarikannya pada pola-pola zero waste fashion menuntun Aryani untuk semakin menekuni dan mengembangkan metode ini. Zero waste fashion sendiri adalah metode pembuatan pakaian tanpa menyisakan perca sedikit pun. Hal ini ditempuh dengan cara membuat pola yang sedemikian rupa di atas sebidang kain hingga menjadi pakaian utuh. Tidak ada white space; setiap kain yang digunting akan menjadi bagian dari pakaian jadinya.

Produk-produk dengan zero waste pattern making & cutting

“Menurut saya ini saat yang tepat, di mana di seluruh dunia muncul kesadaran untuk bagaimana mengurangi beban dari bumi kita ini,” tambah Aryani, saat ditanya mengenai awal mula dirinya mendedikasikan waktunya untuk mengembangkan zero waste fashion. “Sekarang perusahaan garmen terkenal seperti Zara memiliki target untuk mulai menggunakan sustainable fabric secara keseluruhan pada 2025. Artinya begini : dari pihak konsumen sendiri sudah mulai muncul kesadaran pentingnya tidak membebani bumi; nah sekarang kita yang bergerak di dunia fesyen harus bergerak lebih dulu karena kita yang memproduksi,” lanjutnya.

Aryani sadar mengedukasi masyarakat akan selalu menjadi tantangan tersendiri, namun hal itu bukan berarti tidak mungkin. Di Indonesia sebenarnya sudah cukup banyak desainer yang menerapkan konsep zero waste fashion dalam karyanya, tapi penerapannya di lapangan belum terlalu efektif karena setiap pola ada kekurangan & kelebihannya. Misalnya, busana zero waste fashion itu biasanya one size fits all, dan tidak mengikuti lekuk tubuh. Pola berbentuk lengkungan--misalnya, pola lengan--menyebabkan terciptanya banyak white space, yang berarti banyak perca yang dihasilkan. Di sinilah produsen dan pendidik mengedukasi masyarakat bahwa dengan menerapkan metode zero waste fashion, perca yang ada berbentuk lurus, jadi bisa digunakan untuk ornamen/aksen bajunya. Perca lurus tersebut juga bisa disambung-sambung hingga menjadi baju lagi, atau bisa juga dijadikan aksesoris macam tas, bando, dan lain sebagainya.

Karena perlu kita ingat bahwa perca kain ini meskipun masih bisa dimanfaatkan kembali tapi bukan berarti semuanya bisa berguna di kemudian hari. Aryani mengatakan bahwa kira-kira hanya 10% dari perca yang ada yang bisa diserap oleh industri fesyen maupun handicraft. Hal ini dikarenakan kebanyakan perca ukurannya terlalu kecil, serta warna dan teksturnya tidak cocok. Jadi jika memang ingin mengurangi beban bumi dari jalur fesyen, lebih baik dicari bagaimana caranya menghasilkan sesedikit mungkin limbah tekstil.

Mungkin perca terlihat seperti ‘cuma’ sampah kecil, apalagi jika dibandingkan dengan limbah fesyen skala industri besar yang efeknya bisa kita googling sendiri dengan mudah, tapi kalau sudah terkumpul tentu saja jadinya jauh dari kata sedikit. Aryani mencontohkan, sampah perca yang dihasilkan penjahit rumahan saja bisa jadi berkarung-karung tiap bulannya. Jika 1 penjahit menghasilkan 1 karung sampah perca dalam sebulan... ”Lalu sekarang ada berapa jumlah penjahit di Indonesia, berapa ribu?” tandas Aryani.

Aryani juga menambahkan bahwa khususnya yang perlu diperhatikan adalah limbah polyester. Jenis kain ini membutuhkan ratusan tahun untuk terurai sempurna, karena berbahan dasar plastik. Jika dibakar pun akan meninggalkan jejak karbon. Di luar Indonesia, sudah ada yang mengembangkan polyester ramah lingkungan, tapi di Indonesia sendiri pilihan untuk kain dengan karakter seperti polyester atau spandex (misalnya untuk olahraga atau baju renang) pilihannya masih sangat terbatas. Di sinilah salah satu letak pentingnya lembaga riset fesyen, khususnya yang berfokus pada pengembangan material baru yang ramah lingkungan.

Dalam setiap kesempatannya mengadakan workshop, Aryani selalu mengusahakan untuk menyediakan kain yang berasal dari serat alam dalam workshop kit-nya. Dari situ Aryani ingin menekankan bahwa pemilihan material kain yang dilakukan oleh produsen sangat berpengaruh pada kesadaran konsumen akan fesyen yang berkelanjutan. Kesadaran konsumen ini tidak bisa dibangun dalam jangka waktu singkat, maka dari itu pergerakannya harus dimulai sedini mungkin, dari hal yang kecil dulu. Misalnya, dalam setiap pakaian yang sempat diproduksi oleh Aryani Widagdo Creativity Nest terdapat tulisan pendamping yang berisi ucapan terima kasih karena sudah membeli produk yang merupakan zero waste fashion item, yang mana itu berarti konsumen telah turut andil dalam mengurangi beban bumi.

Kembali ke Rumah

Aryani memiliki satu mimpi besar yang walau penerapannya tidak harus zero waste tapi bisa menjadi solusi dari kesadaran berpakaian yang less waste : beliau ingin menghidupkan kembali home sewing, alias menjahit sendiri di rumah. “Kepinginnya itu orang-orang kembali hobi menjahit, meskipun tidak semua baju membuat sendiri. Kalo kita membuat sendiri, pasti mau dibuang itu sayang,” ujarnya. Beliau menambahkan, jika orang-orang membuat sendiri bajunya, bisa dibilang dengan usaha yang sedikit ngoyo (karena bisa sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan), orang akan lebih ngeman (sayang, red) baju tersebut. Orang akan cenderung tidak mudah membuangnya, mengingat usaha yang telah ditempuh. Bandingkan jika baju tersebut didapatkan dengan murah, orang akan cenderung berpikir “Ya sudahlah buang aja, murah ini.”

Sementara jika ditanya mengenai hal apa yang Aryani harapkan bisa ditemukan di industri fesyen Indonesia di masa yang akan datang, beliau mantap menjawab bahwa yang diharapkannya adalah suatu keadaan dimana para penggiatnya dapat memakai material yang terbuat dari sustainable fiber. Sekarang ini yang menjadi masalah adalah harga material dari serat alam lebih mahal dari polyester, sementara industri pasti mempertimbangkan harga. Aryani menginginkan kedepannya bisa tercipta suatu keadaan dimana penggiat dapat menerapkan konsep fesyen yang berkelanjutan, dari bahan yang ramah lingkungan pula, serta adanya apresiasi yang pantas pada para buruh yang membuat produk fesyennya, sehingga mereka dapat hidup dan mengerjakan pekerjaannya dengan penuh martabat. Dan hal ini tergantung pada banyak hal : pemerintah, stakeholders, produsen, pendidik, desainer, konsumen, semuanya yang terlibat. Karena fashion sustainability bukan hanya tanggungjawab pecinta fesyen, tapi PR bersama bagi siapapun yang hidup berpakaian. (/nma)