Masalah Fast Fashion



Fast Fashion dapat diartikan sebagai praktik industri fashion yang bertujuan untuk membuat orang-orang berbelanja lebih sering dalam waktu yang lebih singkat. Dahulu,saat pakaian masih dibuat dengan sistem pesanan (bespoke) dan made-to order, trend bergerak lebih lambat. Dalam satu tahun, desainer rata-rata mengikuti empat koleksi musiman atau seasonal collection yang terdiri dari Winter, Spring, Summer dan Fall/ Autumn. Akibatnya tidak banyak barang yang terbuang percuma menjadi sampah.

Kini, untuk mengejar profit yang lebih banyak, setiap minggu bisa tersedia koleksi baru yang diproduksi massal oleh fashion chains besar. Hasil dari praktek ini adalah menurunnya kualitas barang, terlalu banyak kembaran (uniformity) dari satu artikel, konsumerisme, dan tentu tidak ada ruang untuk sustainability. Karena buruknya kualitas pakaian itu lah, menghasilkan sampah yang lebih banyak di kemudian hari.
Akibat model yang terlalu cepat berkembang saat ini, muncul tekanan ke produsen untuk pengerjaannya, dan ke konsumen untuk selalu harus ‘up to date’. Selain masalah lingkungan, yang sering disorot adalah masalah eksploitasi. Banyak petani katun dan perajin payet/ sequins, mempekerjakan anak di bawah umur. Banyak pekerja garmen yang harus bekerja berjam-jam setiap harinya namun tanpa imbalan dan upah yang sesuai, juga menghadapi kekerasan di pabrik (baik seksual, verbal maupun fisik). Banyak yang bekerja tanpa jaminan kesehatan dan asuransi jiwa.
Menyangkut produktivitas seseorang, berapa banyak waktu, energi, dan uang yang anda keluarkan setiap harinya jika memiliki banyak sekali pakaian yang tidak anda sukai, tidak mungkin anda kenakan, lupa anda miliki, karena membeli saat tidak sadar? Banyak waste yang dihasilkan karena anda terjebak dalam permainan fast fashion, di mana konsumen terus menerus dituntut untuk membeli item baru yang sedang laku di pasaran.