FASHION REVOLUTION BANDUNG


Tanggal 23 April merupakan acara puncak Fashion Revolution yang diselenggarakan secara international. Event ini digagas sebagai bentuk aksi nyata atas tragedi Rana Plaza di Bangladesh tahun 2013 lalu. Fashion Revolution merupakan gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar peduli terhadap sisi negatif dari industri fashion. Sebutlah pencemaran lingkungan dan eksploitasi pekerja yang terjadi diberbagai belahan dunia. 

Di Indonesia, event Fashion Revolution diadakan serentak di tiga kota, yaitu: Jakarta, Bandung, dan Bali. Fashion Revolution Bandung telah sukses diselenggarakan selama tiga hari atas kerjasama dari Parong.pong, Beyond Fashion, Maranatha University dan juga Paskal 23.

Di hari puncak, yaitu tanggal 23 April, Bandung Fashion Revolution mengadakan talkshow yang diisi oleh tiga orang panelis. Kali ini, Zahra yang berkesempatan datang langsung ke talkshow ini, menuliskan keseruan dan insight yang didapat dari acara tersebut. 


Panelis pertama adalah Marina Chahboune. Marina adalah seorang ahli di bidang sustainable fashion yang dekat dengan aktivitas fashion factory di Indonesia. Beberapa kali Marina menjadi keynote speaker di berbagai seminar dan juga lokakarya di Indonesia. Marina bekerja untuk agensi sustainable fashion di Berlin bernama "Beyond Fashion". Dalam paparannya pada event ini, Marina menjelaskan secara garis besar akan dampak negatif daripada industri fashion yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan dan faktor kesejahteraan sosial. Marina mengatakan pula bahwa tidak selayaknya ada nyawa yang dikorbankan karena jam kerja yang tidak manusiawi dan juga kualitas kehidupan yang tidak memadai. Karenanya kampanye Slow Fashion terutama menyuarakan kepada konsumen agar mereka kritis kepada label fashion yang mereka beli. Mempertanyakan siapa yang membuat baju mereka dan bagaimana pekerja ini diperlakukan. 

Panelis kedua adalah Ronaldiaz Hartantyo, yaitu pendiri dari mycotech. Ronaldiaz memaparkan mengenai inovasi mycotech untuk mengembangkan serat alternatif yang berasal dari miselium kapang sebagai pengganti kulit. Bahan miselium ini kemudian digunakan sebagai material pembuatan sepatu, tas, dan dompet. Inspirasi dari inovasi mycotech didapat sebagai hasil diskusinya dengan seorang pakar jamur di Amerika beberapa tahun silam. Ia berharap bahwa di masa depan, material alternatif semakin diminati dan memiliki peluang pasar yang lebih besar.

Panelis ketiga merupakan founder dari Parong.pong recycle and waste management, Bapak Rendy Aditya. Bapak Rendy menceritakan berbagai hal mengenai pengelolaan sampah yang sedang dikerjakan oleh parongpong management termasuk roadmap parong.pong dalam hal menyelesaikan persoalan ilmbah tekstil. Parong.pong management memiliki visi agar permasalah sampah di kota Bandung dapat teratasi. Parong.pong juga menginisiasi “the high performance fashion” project dengan menggandeng beberapa stakeholders seperti mycotech dan The Institut Français d'Indonésie. 

Event Bandung Fashion Revolution kemudian ditutup dengan fashion show dari Islamic Fashion Institute, Telkom University, Universitas Kristen Maranata, dan Sekolah Tinggi Design Bandung. Fashion show dari keempat sekolah design ini, menampilkan karya karya siswa mereka yang bertemakan eco-fashion. Konsep ramah lingkungan ditampilkan dengan karya karya kreatif mereka menggunakan teknik upcycle, zerowaste cutting, penggunaan pewarna dan serat alami. Dalam fashion show ini, karya dari masing-masing peserta memiliki ciri khas.  

Ulva Betsi Wandi dari sekolah tinggi Design menggunakan teknik upcycling pakaian.

Andreina Ratu sebagai perwakilan dari Telkom University melakukan pengolahan limbah denim dengan teknik surface. 

Sedangkan Denissa Herina Puspita yang juga mewakili Telkom University, melakukan pengolahan pakaian denim reject.

Regina Marthiane Margaretha, mengedepankan subtraction cutting.

Tia Hidayat, siswi Islamic Fashion Institute memeragakan busana hasil karya tenun kontemporer dengan serat alami. 

Peragaan busana dalam Bandung Fashion Revolution kali ini diharapkan dapat mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat agar terbuka wawasannya mengenai dampak buruk dari industri fast fashion dan lebih jauh lagi, dapat terlibat aktif dalam upaya menciptakan suasana yang kondusif bagi pelaku bisnis slow fashion.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar