Masa Depan Rental Dalam Ekonomi Sirkular

Bicara tentang fashion buyerarchy, poin yang paling luas dan terletak di piramida bagian bawah -termasuk di dalamnya adalah Rewear, Rental, Swap dan Thrift- berkutat pada pembahasan soal circular economy. Apakah yang dimaksud dengan circular economy itu?

Circular Economy atau ekonomi sirkular adalah sebuah model yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi dengan manfaat maksimal untuk masyarakat luas, dan mengedepankan pemahaman bahwa sumber daya energi dan bahan mentah bersifat terbatas. Ekonomi sirkular mendukung transisi pemanfaatan sumber energi terbarukan, pertumbuhan ekonomi, kapital sosial dan juga pelestarian lingkungan. Model ini dapat diterapkan mulai dari proses perancangan produk yang minim sampah dan polusi, memaksimalkan penggunaan material serta regenerasi sistem lingkungan (Ellen MacArthur Foundation, 2017).

Secara sangat sederhana, ilustrasi soal ekonomi sirkular dan perbedaannya dengan model bisnis lain adalah sebagai berikut:


Sumber gambar: @awakeninghumanbeing

Nah, setelah mendapat gambaran tentang ekonomi sirkular, tentunya teman-teman bertanya-tanya apakah mode bisnis ini sama menguntungkannya dengan ekonomi singular yang telah lama dilakukan oleh merek-merek dan retailer besar?

Sebuah inisiatif global yaitu Fashion for Good pada Bulan Mei lalu merilis sebuah laporan yang mereka kerjakan bersama Accenture Strategy berjudul "The Future of Fashion: Assessing The Viability of Circular Business Models" yang dapat diakses di laman resmi mereka di sini. Laporan ini mereka sampaikan pada acara Copenhagen Fashion Summit bulan Mei lalu.

Mengapa mengakses viability atau kesempatan hidup bagi pelaku ekonomi sirkular menjadi agenda mereka? Karena keadaannya saat ini yang marak terjadi adalah: bisnis fashion kebanyakan tidak memperhatikan berkelanjutan, dilihat dari konsumsi material, polusi yang dihasilkan, dan juga buangan yang membebani lingkungan.

Sebagai model bisnis yang belum populer, tentunya ekonomi sirkular memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing.

Strength & Opportunity
- Praktik desain baru yang sirkular
- Kesempatan bagi inovator start-up baru
- Pembangunan infrastruktur yang mendukung proses ekonomi sirkular (pengiriman barang, pengembalian dll)
- Preferensi konsumen yang berubah, yang lebih menyukai hal baru dan variasi, juga tidak terlalu ingin dibebani dengan kepemilikan. Nyatanya, 73% konsumen milenial lebih memilih merek yang memiliki tujuan yang jelas*

Weakness & Threat
- Belum semuanya memiliki keahlian dalam bidang teknologi
- Perlu menajemen inventarisasi yang lebih matang.

Kembali pada laporan dari Fashion for Good. Ada tiga jenis model bisnis dalam ekonomi sirkular:
1. Rental: Peminjaman item fashion dalam jangka waktu tertentu
2. Subscription-Rental: Penyewaan berlangganan dengan pembayaran bulanan agar dapat mengakses banyak pilihan item fashion.
3. Recommerce: Penjualan kembali item fashion bekas yang dilakukan oleh penjual/ retailer.

Ketiga model bisnis ini memungkinkan bagi para brand dan retailer untuk memutus rantai pemakaian bahan baku dan sumber daya yang tidak terbarukan, serta mengeliminasi limbah atau buangan. Sebagai inisiatif global pertama yang mengakses keberhasilan bisnis sirkular untuk bertahan dengan hasil yang memuaskan, Fashion for Good yakin bahwa di masa depan, ketiga model bisnis ini secara finansial dapat diandalkan sehingga mendatangkan kesempatan untuk menambah margin keuntungan.

Mereka menerapkan dan mencoba menganalisa ketiga model bisnis ini pada keempat jenis pemain dalam pasar industri fashion, yaitu:
1. Value market: ditandai dengan harga yang murah, penjualan yang tinggi, dan pilihan produk yag sangat beragam.
2. Mid-market: serupa dengan value market, hanya memiliki harga yang sedikit lebih tinggi.
3. Premium market: mewah namun tetap affordable, produknya memiliki standar yang dijaga betul.
4. Luxury market: barang-barang desainer dengan kualitas terbaik dan harga yang cukup tinggi.

Hasil akhirnya ternyata, praktik recommerce menjadi yang paling menjanjikan pada tataran mid-market, premium, hingga luxury. Subscription rental menyusul dengan menunjukkan margin positif pada ketiga pasar. Lalu praktik rental yang populer pada kelas luxury dan premium.

Hal ini menunjukkan bahwa di masa depan, praktik rental pakaian (baik rental biasa maupun subscription-rental) dan recommerce memiliki tempat baik dan menghasilkan keuntungan yang menjanjikan dalam industri fashion, baik di pasar kelas bawah, menengah maupun atas. Ketiganya juga memberikan pengaruh baik pada konsumen, penjual, dan secara sosial-lingkungan. Hal ini juga dapat menjadi cambuk bagi  produsen value market untuk berinovasi dengan biaya yang terbatas, meningkatkan durabilitas dan kualitas pakaian serta mengubah paradigma bahwa  low cost itu sama dengan disposable.

Bagaimana? Teman-teman tertarik untuk menjalankan bisnis dengan model singular untuk membantu lingkungan kita? Adakah cerita menarik saat mencoba rental atau menyewa pakaian? Atau ingin berbagi tempat sewa pakaian favorit kalian? Ceritakan di kolom komentar di Instagram Jelujur, karena bulan Agustus -sebagai #RentMonth- sudah hampir selesai sebentar lagi.

Let's connect the dots by sharing stories!

Catatan:
*Nielson, “Global Corporate Sustainability Report,” Nielson, 2015.

Posting Komentar

0 Komentar